PALEMBANG (Negerikunews.click) — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius yang harus diantisipasi bersama oleh seluruh pemangku kepentingan di Sumsel.
Hal tersebut disampaikan Herman Deru saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla, Jumat (24/04/2026). Dalam rapat itu, ia mengingatkan pengalaman buruk kabut asap yang pernah melanda Sumsel dan berdampak terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat.
Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi pelajaran penting agar kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau terus diperkuat setiap tahun.
“Karhutla merupakan persoalan yang selalu kita hadapi. Karena itu, seluruh pihak harus memiliki persepsi yang sama agar langkah pencegahan berjalan efektif,” ujar Herman Deru.
Ia menilai keterbukaan informasi terkait kualitas udara menjadi hal penting agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi ketika kondisi udara memburuk, termasuk penggunaan masker saat tingkat polusi meningkat.
Herman Deru juga meminta prediksi musim kemarau kering yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dijadikan dasar dalam menyusun strategi mitigasi bencana sejak dini.
Menurutnya, informasi tersebut bukan untuk menimbulkan kekhawatiran, melainkan sebagai alarm agar pemerintah daerah dan masyarakat lebih siap menghadapi potensi karhutla.
“Periode kemarau yang diperkirakan mulai Mei hingga mencapai puncaknya pada Agustus harus dimanfaatkan untuk memetakan daerah rawan dan memperkuat kesiapsiagaan sejak awal,” katanya.
Ia berharap upaya pencegahan karhutla tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Sementara itu, Koordinator BMKG Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi datang lebih awal dengan tingkat kekeringan yang cukup tinggi.
“Mulai Mei kita memasuki musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal dan kondisi yang diperkirakan sangat kering,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa suhu udara diprediksi meningkat seiring berakhirnya musim hujan dan kondisi curah hujan rendah diperkirakan berlangsung hingga September mendatang.
Di sisi lain, Danrem 044/Gapo Khabib Mahfud menyebut sejumlah wilayah di Sumsel masuk kategori rawan karhutla, terutama berdasarkan pengalaman peningkatan hotspot saat fenomena El Nino beberapa tahun lalu.
Saat ini Pemerintah Provinsi Sumsel juga telah menetapkan status siaga darurat karhutla melalui keputusan gubernur tertanggal 22 April 2026.
Dalam penanganannya, strategi pengendalian karhutla dilakukan melalui tiga tahapan utama yakni mitigasi, penindakan, dan pemulihan.
Tahap mitigasi dilakukan melalui patroli terpadu, sosialisasi kepada masyarakat, serta pengaktifan posko siaga di desa-desa rawan kebakaran. Sementara penindakan mencakup kesiapan pemadaman darat dan udara termasuk penggunaan water bombing.
Adapun tahap pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan terdampak serta upaya pemulihan lingkungan pasca kebakaran guna mencegah kerusakan yang lebih luas di masa mendatang. (rd)











